Langsung ke konten utama

Kisah Inspiratif; darah rasa dan hati

     Setelah sholat isya, saya beranjak keluar dari masjid dan seperti biasanya, saya duduk di emperan masjid. Beberapa saat kemudian, setelah merenungi dan mentadaburi di emperan yang dinaungi pepohonan-pohonan rimbun sebagai tameng pengadem di siang dan malam harinya.
        "Brother", sapanya dengan ringan karena melihat-ku duduk merenung menyendiri. Dengan santai iapun duduk sembari menepuk pundaku dengan tangan hangatnya.
       Bicara-bicara ringanpun dimulai sampai yang basa-basipun sempat dijadikan bahan pembicaraan dikala tadi. Bahan pembicaraan, keadaanpun hening, tinggal desak-desikan angin dan pohon yang bersenandung ditengah keheningan.
        Kenapa ya? (Tanyanya ringan sekali) ia (kataku perlahan), "Kenapa ya, aku lebih mencintai dan menyayangi orangtua yang membesarkan-ku daripada orangtua yang melahirkan-ku dengan susah payah? (Lanjut tanyanya tadi).
         Sejenak-ku menunduk lalu menengadah ke langit sembari menghela nafas kecil dan menjawab pertanyaanya "Brother, pepatah jawa mengatakan 'witing tresno jalaran soko kulino' (cinta itu tumbuh mekar bersama kebiasaan), maka wajar perasaan-mu seperti itu, karena sudah banyak kisah dan cerita yang telah kau lalui yang begitu membekas dan menembus alam bawah sadar-mu dan meninggalkan kesan dan pesan kehidupan." 

Nb: Rasa itu akan menyatu dan mendarah daging walaupun sebenarnaya bukan darah dagingnya, karena kebiasaan itulah yang menyatukan rasa dan darahnya.

Komentar