Setelah sholat isya, saya beranjak keluar dari masjid dan seperti biasanya, saya duduk di emperan masjid. Beberapa saat kemudian, setelah merenungi dan mentadaburi di emperan yang dinaungi pepohonan-pohonan rimbun sebagai tameng pengadem di siang dan malam harinya.
"Brother", sapanya dengan ringan karena melihat-ku duduk merenung menyendiri. Dengan santai iapun duduk sembari menepuk pundaku dengan tangan hangatnya.
Bicara-bicara ringanpun dimulai sampai yang basa-basipun sempat dijadikan bahan pembicaraan dikala tadi. Bahan pembicaraan, keadaanpun hening, tinggal desak-desikan angin dan pohon yang bersenandung ditengah keheningan.
Kenapa ya? (Tanyanya ringan sekali) ia (kataku perlahan), "Kenapa ya, aku lebih mencintai dan menyayangi orangtua yang membesarkan-ku daripada orangtua yang melahirkan-ku dengan susah payah? (Lanjut tanyanya tadi).
Sejenak-ku menunduk lalu menengadah ke langit sembari menghela nafas kecil dan menjawab pertanyaanya "Brother, pepatah jawa mengatakan 'witing tresno jalaran soko kulino' (cinta itu tumbuh mekar bersama kebiasaan), maka wajar perasaan-mu seperti itu, karena sudah banyak kisah dan cerita yang telah kau lalui yang begitu membekas dan menembus alam bawah sadar-mu dan meninggalkan kesan dan pesan kehidupan."
Nb: Rasa itu akan menyatu dan mendarah daging walaupun sebenarnaya bukan darah dagingnya, karena kebiasaan itulah yang menyatukan rasa dan darahnya.
Komentar
Posting Komentar