Kemarin, tengah malam, seorang pemuda yang biasa disapa "kang adi" duduk sambil menulis revisi di samping mobil ambulan, mobil ambulan itu diparkir di depan halaman masjid Salman al-farisi Jln sutorejo no.11 kav 1A, dan didepan halaman masjid itu ada meja, kursi dan tempat colokan charger juga. Ditempat itu "kang adi" sudah terbiasa dan tempat itu menjadi ruang kerjanya dikala tugas kuliahnya. Setiap malamnya biasa-biasa saja, sampai dihalaman masjid itu kang adi sampai ketiduran ketikan mengerjakan tugasnya. Suatu ketika, pada saat malam jum'at, duduklah kang adi dihalaman masjid samping mobil ambulan yang biasa ia tempati ketika mengerjakan tugas kampus mulai dari setelah sholot isya, sampai masuk waktu tengah malam, kisaran jam 12-an, keadaan hening, karna ditengah malam tak ada satu orangpun. Dug-Dug-Dug!!! Bunyi sesuatu di mobil ambulan, keadaan mulai horror, bulu-bulu kudu...
Setelah sholat isya, saya beranjak keluar dari masjid dan seperti biasanya, saya duduk di emperan masjid. Beberapa saat kemudian, setelah merenungi dan mentadaburi di emperan yang dinaungi pepohonan-pohonan rimbun sebagai tameng pengadem di siang dan malam harinya. "Brother", sapanya dengan ringan karena melihat-ku duduk merenung menyendiri. Dengan santai iapun duduk sembari menepuk pundaku dengan tangan hangatnya. Bicara-bicara ringanpun dimulai sampai yang basa-basipun sempat dijadikan bahan pembicaraan dikala tadi. Bahan pembicaraan, keadaanpun hening, tinggal desak-desikan angin dan pohon yang bersenandung ditengah keheningan. Kenapa ya? (Tanyanya ringan sekali) ia (kataku perlahan), "Kenapa ya, aku lebih mencintai dan menyayangi orangtua yang membesarkan-ku daripada orangtua yang melahirkan-ku dengan susah payah? (Lanjut tanyanya tadi). Sejenak-ku...